thinking of design!

hello hello I’m back!

Setengah semester telah berlalu, tapi saya tetap setia menulis blog ini (walau memang ada tuntutan dari pihak ketiga a.k.a. dosen dan tutor, hahahaaa). Tapi ada yang menarik dengan kelas minggu ini yang membuat saya menulis topik ini……

Guest Lecture Class!!

Benar sekali, dosen tamu kelas Creativity + Innovation kemarin adalah Adi Panuntun, the person who has magnificent brain works yang merupakan creator dari Kota Tua video mapping, produser dari film CIN(T)A sebagai hasil dari 9 matahari production. Canggih, canggih, canggih. Salute, kak Adi!

Okay. Kak Adi ini kemarin sharing tentang Design Thinking. Apa itu? Ternyata istilah ini memiliki makna yang sangat dalam, design thinking digunakan dengan menggunakan kreativitas kita sehingga kita bisa menciptakan sesuatu – ability to create. Benar sekali jika dikatakan setiap individual memiliki esensi kreativitas dalam diri masing-masing. Tapi kita harus mengasah design thinking dengan being blunt – mengutarakan apa yang kita pikirkan, melontarkan pendapat, ide, masukan, kreasi, opini dan lainnya. Jangan takut salah, jangan malu, jangan mikir susah-susah, jangan merasa di”kurung” atau dibatasi. Just say it. Just express it. Just release it.

Kak Adi Panuntun memberikan contoh kasus yang sudah sering kita dengar: The Rise of Teh Botol Sosro dan Purify Water Aqua.

Mari kita ulas kisahnya. Penemuan teh dalam kemasan botol oleh Alm. Pak Sosrodjojo dahulu di daerah Slawi dan Tegal, Jawa Tengah. Puluhan tahun yang lalu, Pak Sosro telah menggunakan design thinking. Dia berani mengungkapkan ide nya untuk membuat teh dalam kemasan – sesuatu yang diluar kebiasaan minum teh pada umumnya (dengan diseduh). Pak Sosro menerima banyak sekali cemooh, hinaan dan ejekan atas idenya tersebut. Tapi lihat sekarang. Pak Sosro melihat jauh ke depan, design thinking membuat ia mem-package hasil produk ide nya sedemikian rupa sehingga menghasilkan added value yang lebih dan amat bermanfaat. Hidup Teh Botol Sosro.

Air minum Aqua yang diprakarsai oleh Pak Tirto  Utomo juga menghadapi masalah awal yang sama: cemooh, hinaan dan ejekan. Tapi Pak Tirto telah berjasa menambah nilai guna pada air mineral dalam kemasan. Pak Tirto dan Pak Sosro berhasil breaking the rule – rule yang secara transparan mengelilingi kita sehingga self-perception dan self-limit terbangun. Design thinking yang mereka miliki amat berhasil membuahan suatu Mahakarya. Hebat!

Bagaimana sih proses dari Design Thinking itu sebenarnya?

Observe –> Synthesize –> Brainstorm –> Vote –> Prototype –> Story tell

Observe. Bagian pertama dari design thinking process ini merupakan fondasi awal dari seluruhnya. Observe berarti menganalisa sekitar. Lihat dan berinteraksilah dengan orang-orang sekitar. Kita mengidentifikasi hal-hal dari future user tidak hanya dari luarnya atau wajarnya saja. Think deep and emotion of them!

Synthesize. Mengamati apa yang menjadi problem, need atau opportunity. Pasti sebetulnya banyak hal yang mungkin jadi “solusi” dari kebutuhan-kebutuhan yang tidak kita sadari itu perlu – disebut Unstated needs. Hal ini merupakan lanjutan dari deep thinking dari observasi terhadap user di atas.

Brainstorm. Ini merupakan proses yang butuh ketabahan dan kesabaran tinggi. Mengapaaa? Soalnya disini kita mengungkapkan ide-ide dan pemikiran kita. Dimana out of the box, out of the boundaries thinking diharuskan. Disini kita bakal melontarkan maksud kita yang diharapkan bisa menjadi solusi baru dari unstated needs.

Vote. Tidak mungkin hanya 1 individu yang memiliki ide-ide kreatif. Dari puluhan, ratusan, atau lebih orang yang mempunyai ide, hanya satu yang akan dipilih. Vote step bisa dibilang seperti tahap seleksi. Seleksi tidak hanya menimbang bagus tidaknya, menarik tidaknya suatu ide. Tapi juga hubungan antara manfaat-ketertarikan user-economical viability- dan teknologi atau nilai guna yang diberikan.

Prototype. Bisa dibilang ini merupakan tahap test-market. Disini kita mencoba membuat “prototype” atau dummy dan menilai market acceptance dari produk hasil ide tersebut. Respons dari market akan dievaluasi guna memaksimalkan produk final nanti.

Story tell. Tahap terakhir dalam proses design thinking ini merupakan upaya “menceritakan” outcome kita.Biasanya cerita berupa fiction atau behind the scene yang menjadi historical background. Guna storytelling adalah meningkatkan attractiveness dan desirability user pada produk kita.

Itulah mengenai Design Thinking. Semua kalangan dapat menggunakan proses ini untuk menambah nilai guna – semata berawal dari kreativitas dan berakhir pada manfaat yang tiada tara!

Selanjutnya, saya harus menerapkan Design Thinking dalam persepsi menghubungkan Buah Apel dan Board Marker.

Bagaimana menghubungkan dua hal ini?

Design Thinking rules! Saya akan memberi brand “Apple” pada produk board marker saya. Esensinya akan saya jelaskan pada storytelling step. Disini akan dijabarkan koneksi yang ada dalam kedua hal amat berbeda. Kreativitas dan analisis mendalam akan mengaitkan keduanya.

Persepsi yang ada dari board marker adalah papan tulis. Papan tulis identik dengan proses belajar mengajar dikelas. Disini saya menceritakan kebiasaan belajar mengajar yang ada di Barat, dimana anak-anaknya memberikan buah apel kepada gurunya. Buah apel merupakan apresiasi yang diberikan murid kelas pada guru yang merupakan pahlawan tanpa tanda jasa dalam dunia pendidikan. Buah apel – identik dengan warna merahnya – merupakan simbol universal terhadap teacher dan teaching. Buah apel pernah disebut sebagai the fruit of the tree of the knowledge. WOW! Proses belajar mengajar yang guru berikan tidak lepas dari papan tulis dan board marker. Disinilah design thinking yang mengaitkan keduanya. Board marker memiliki jasa “penyambung” knowledge yang ada di guru untuk muridnya.

Hebat bukan design thinking itu?

Terakhir saya ingin membandingkan respons dari 2 kelompok berbeda mengenai suatu issue future retail marketplace. Kelompok pertama adalah Traditional Business Strategy. Kedua adalah Innovation and Design Class.

1. Traditional Business Strategy. Research terhadap trends. Membaca report-report analitis. Melakukan interview pada industry expert. Asumsinya berbasis rationality, objectivity, reality fixed dan quantifiable. Metodenya membuktikan 1 best answer dari analisis. Proses yang dilakukan berbasis “planning”. Yang mengendalikan keputusan akhir adalah logika dan numeric models. Value yang dipercaya adalah pursuit of control dan tidak nyaman dengan ketidakpastian. Level fokusnya jelas: abstrak atau khusus.

2. Innovation + Design Class. Selain tidak terlalu mendalami performance trend research dan analisis report, asumsi mereka berbasis pada subjective experience dan reality, socially constructed. Metodenya adalah experimentation ke arah better answer. Proses yang dilakukan berbasis “doing”. Yang mengendalikan keputusan akhir merupakan emotional dan experiental models. Value yang diyakini merupakan pursuit of novelty dan tidak menyukai sesuatu yang pasti / status quo. Level fokusnya merupakan pergerakan antara abstrak dan partikular.

Sekian dan sampai jumpa! Salam kreatif!



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s